Kronologis Gagal Nembak (Sebuah Trilogi)

Huhhhhh… Menarik nafas yang dalam sambil menempelkan jari-jemari di keyboard komputerku. Akhirnya aku kembali setelah cukup lama menghilang dalam kegelapan yang menyilaukan. Ahaha. Apa kata-kata di atas bisa diterima sebagai awal yang baik dalam membuka post baru. Soalnya dah lama banget, ga posting tentang kamu iev. Tapi aku kembali kan, semoga aku tetap ada, dan ga ilang lagi.

Mungkin hilangnya aku ada hubungan dengan suasana hati yang gila dan kacau kemarin-kemarin. Tapi sekarang udah ga lagi, karena sekarang udah lebih kacau. Tiap hari aku tambah kacau, tapi tiap hari juga aku harus berpura-pura semakin baik. Hidup dengan topeng yang selalu menempel aku pikir bisa kasih kelegaan, ternyata tidak. Apa yang aku pikirkan salah, malah sebaliknya yang aku rasa. NYESEK. Ini semua karena, weits…… Stop, kenapa aku nyerocos terus ya. Aku harus cerita dari awal semua.

Ini semua terjadi sewaktu Kawan-kawan FISIPOL mengadakan makrab bersama di Puncak pada tanggal 14-16 Mei kemarin. Semua berjalan apa adanya, dan kita semua have fun. Pada setiap kesempatan teman-teman selalu mengejak dan mencerca (bahasanya baku banget, bisa salah paham) maksudnya ngecengin kalo aku harus nembak kamu. Mereka kayanya ga tahu kalo aku juga pengen ngelakuin itu, tapi kayanya kepala aku ditimpa besi berat yang bikin aku susah mikir dan susah gerak. Apa lagi mau nembak. Oya sebelumnya aku mau bilang di sini nembak itu maksudnya mengungkapkan, mengungkapkan maksudnya menyatakan, menyatakan maksudnya memberi tahu, memberi tahu isi hati yang cinta mati sama dia.

Detik berjalan, menit berlalu, jam berputar, dan hari berganti. Pada malam kedua aku berencana mengungkapkannya. Kita duduk dan berbaring di pinggir kolam renang. Bernyanyi dan menatap langit. Aku pikir itu moment yang cukup sempurna untuk mengungkapkan isi hati.aku siapkan nafasku naik turun dan mengatur mentalku, eh kebalik, maksudnya mempersiapkan mental dan mengatur nafasku yang udah naik turun. Untuk aku dah sikat gigi, jadi ga ketauan baunya.

Tiba waktunya aku mau ngucapin aku ngerasa momentnya ga pas. Banyak orang di sekitar kita, padahal sih karena aku tengsin dan deg-degan. Aku seperti menunda-nunda apa yang ada dalam hati aku. Terlebih saat-saat seperti itu hati dan lidah seperti musuhan. Ga mau kordinasi dengan baik. aku semakin deg-degan dan semakin gila. Sampe akhirnya kamu masuk ke dalam vila meninggalkan aku. AH, GAGAL LAGI.

Aku ga mau menyerah sampe di situ aku siapkan strategi berikutnya agar bisa punya waktu untuk mengungkapkan padamu. Aku sms dan minta kamu ketemu. Aku harap kita bisa janjian kaya jamannya opa oma, yang janjian ppake surat terus ketemu di belakang vila gitu. Aku menunggu kamu di belakang vila terus ketemu semut merah dan malu pada semut merah yang bertanya sedang apa.

Ternyata eh ternyata kamu ga bales sms aku. Aku pikir kamu belum buka hape, atau emang dah tahu maksud dan tujuanku di balik batu, eh di balik sms itu. Aku semakin gundah dan terus berhayal ribuan penyebab sms aku ga kamu bales. Sampe akhirnya aku ketiduran dan terbangun dengan melompat lalu terkaget karena aku punya rencana malam ini. Aku lihat jam, dan syukurlah karena aku tidur cuman satu jam. Aku bergegas membuka hape, dan ternyata belum juga ada balasmu. Aku berhayal lagi cari tahu kenapa kamu ga bales sms aku. Kelamaan berhayal aku semakin tidak sabar, akhirnya aku putuskan untuk mencarimu dan langsung meminta waktu. Aku berputar berkeliling vila dan mencari kamu dimana sambil bernyanyi dengan siapa terus bilang dalam hati sekarang berbuat apa.

Akhirnya aku lihat kamu lagi di bale-bale, tapi rame banget. Aku bingung lagi dan deg-degan lagi. AH GAGAL LAGI kayanya. Tapi ga sampe di situ aku tunggu moment yang tepat. Mundar-mandir cari peluang kaya suami yang lagi nunggu anak pertamanya lahir. Peluang itu sudah ada, tapi kamu ga sendiri dan deg-degannya semakin gila. Kelamaan nunggu malam semakin larut. eh kamunya juga kaya menghindar dari orbit aku. Sepertinya kamu tahu maksudku dan tidak mau aku mengutarakannya. Aku semakin down. Tapi tetap harus bulat tekad ku. Lama menunggu aku lihat kamu dah tidur di sofa. Rencana baru timbul, yaitu dengan menunggu kamu dari sebuah pojokan dan berharap kamu terbangun mau ke kamar mandi baru aku cegat dan ajak ngomong.

Aha, aku emang brilian, rencana itu tampaknya semakin mantap dan siap dituangkan dalam cawan tindakan. Aku Nunggu kamu dari tempat yang bisa pandang kamu sambil sesekali mundar-mandir dekat kamu. Ternyata kamu dilihat dari deket waktu tidur emang keliatan lemot ya. Tidur dalam keadaan seperti ga mikir apapun. (lah emang orang tidur ga mikir ya? oke untuk hal ini aku yang lemot).

Waktu berlalu tapi kamu ga kebelet juga. Aku masih nunggu sambil dengerin lagu peter pan. Eh kamu ga bangun juga. Sempet sih kepikiran ide jahat untuk teriak di ruangan sambil pura-pura tidur, jadi orang-orang pada bangun dan pikir aku lagi ngigo. Jadinya kan kamu bangun tuh. Tapi rencana itu sangatlah bodoh, karena semua orang bisa aja bangun dan vila dipenuhi orang yang pada betekarena ngigo ku. Ah, habis akal, malah kamu ga bangun-bangun lagi. Tapi Aku masih nunggu dan terus nunggu. Bahkan jam udah pukul tiga pagi.

Ide jahat yang lain timbul. Yaitu minta nyamuk untuk berkoalisi. Caranya adalah mencari nyamuk yang suaranya paling jelek untuk terbang di telinga kamu sambil nyanyi ala underground. Eh sebelum aku ajak nyamuk koalisi, ada nyamuk yang sepertinya inisiatif duluan. Aku seneng aja, berharap kali ini si nyamuk berhasil bikin kamu bangun. Tapi kayanya si nyamuk bukan cuman mau nyanyi tapi sekaligus cari makan. Dia mulai hinggap di tubuh kamu dan bersiap menyerang. Wah ini tidak bisa dibiarkan, aku segera meluncur dan mengusir si nyamuk.

Si nyamuk kaget, terus lompat, eh kepleeset. Kayanya dia kesel banget, dia teriak n maki saya pake bahasa nyamuk yang ga berpendidikan. Aku ajak berantem, eh dia kabur sambil mengacungkan jari tengah (ada yang tahu jari tengah nyamuk dimananya, terus tangan nyamuk itu ada berapa, dan setiap tangan ada berapa jari). Aku terprovokasi, aku kejer tuh nyamuk, dia kabur lewat belakang, aku kejer terus, dia berhasil lolos ke arah dapur. Dia ngeledek dengan muka paling menjengkelkan terus joged-joged alatrio dangdut. Sialan, kesel banget, gw tandain tuh nyamuk, gw hapal banget mukanya yang mancung tapi nyebelin. Awas aja kalo ketemu gw kurung di dalam botol terus cuman gw kasih air ketek di dalamnya. Biar ga ngisep darah tapi minum air ketek aja terus-terusan.

Tuh kan jadi ngomongin nyamuk. Sakin keselnya negh, gw kebawa suasana. Oke kembali ke topik. Karena si nyamuk tadi aku jadi takut kamu diganggu lagi. Aku ga mau ada yang nyakitin kamu iev, termasuk nyamuk. Aku lihat kamu juga kayanya kedinginan. Maka aku harus lindungi kamu dari nyamuk dan dingin. Tapi gimana caranya, kalo aku duduk di samping kamu yang lagi tidur dan jagain kamu, kamu bisa kebangun dan teriak bahkan gampar aku karena bisa aja kamu mikirnya aku mau macem-macem (satu macem aja susah dei).

Aku jahat lagi, aku colong aja selimutnya temen aku yang tinggi gede dan item itu. Eh dia kebangun, ngamuk-ngamuk. Tapi aku bilang aja kalo aku kedinginan n butuh selimut. Kayanya alasan itu cukup berhasil, aku berhasli dapetin selimut itu, walaupun nanti pagi bersiap menahan pukulan dari kepalan tangannya yang besar itu kalau sampe aku ketahuan ambil selimutnya buat kamu.

Setelah aku dapetin selimut dan aku selimutin kamu tanpa kamu harus bangun. Aku nunggu lagi berharap kamu bangun dan mau ke toilet. Tapi sampe jam setengah lima kamu ga bangun juga. Wah panjang begadangku  malam ini. Aku tunggu lagi sampe jam lima berharap kamu bangun, eh ternyata ga juga. Malah yang bangun beberapa orang panita yang bersiap untguk acara pagi. Jam lima lewat semakin banyak yang bangun, dan itu artinya planing nembak pasti gagal. AH GAGAL LAGI. Karena justru yang aku tunggu kan dimana cuman kita yang bicara tentang cinta, Asssyyyikkkk….

Itu artinya planing nembak gagal sampe hari terakhir kita makrab. Karena siangnya kita harus balik ke Jakarta dengan yang lain. Waduh gimana ya. Tapi aku belum menyerah, aku masih punya waktu sampe siang, bahkan beberapa menit sebelum pulang nanti. Aku pun menyiapkan rencana baru. Rencana ini adalah yang paling top, dari semua rencana di atas, dan pasti terealisasi nantinya. Aku semangat bersiap. Tapi karena tulisan ini dah kepanjangan, rencana aku sekaligus penerapan nembak kamu itu aku tuang dalam tulisan aku berikutnya yang berjudul “Best Plan, Best Skenario, Perfect Moment”.

Sabar ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s