Best Plan, Best Skenario, Perfect Moment (Trilogi Bagian II)

Melanjutkan cerita kemarin yang kepanjangan (Kronologis Gagal Nembak). Maka tulisan ini dilanjutkan. Dilanjutkan untuk meneruskan cerita yang kemarin belum selesai, karena belum selesai maka dilanjutkan, karena dilanjutkan maka bersiaplah untuk meneruskan.

Begini ceritanya, jadi karena sampe pagi dan orang-orang udah pada bangun, maka aku berusaha untuk meneruskan rencana dengan berpikir keras. Lama berpikir aku tetep ga nemuin ide apapun. Aduh semakin sulit ini. Orang yang bangun semakin banyak, aduh gimana ini, bisa-bisa strategi penembakan gagal total. Lalu aku bergerak duduk di ats kolam ikan yang udah kering, (maksudnya kolamnya yang kering, bukan di kolam ikan asin). Duduk di situ ditemenin Oti, tapi kasihan si Oti karena aku cuekin, cos aku lagi cari ide buat penembakan hari ini. Tapi baiknya si Oti karena dia setia menemani duduk di samping gw menghadap gunung.

Sebelum lebih jauh, sedikit cerita tentang Oti gapapa ya, Oti tuh temenku. Itu aja. Lanjuuuttt. Menghadap gunung dan memandang ke segala penjuru aku melihat air mengalir di antara pematang sawah. Cling, ide timbul. Ini dia yang aku tunggu, aku tahu bahwa di atas gunung ini ada air terjun yang cukup keren untuk dijadiin lokasi penembakan. Langsung aku ajak Oti menuju lokasi dengan tujuan untuk survei tempat dan melihat situasi di sana. Tapi jangan bilang-bilang Oti ya, soalnya dia aku iming-imingin foto-fotoan. Oti pun dengan senang hati ikut naik ke air terjun, padahal kami belum tidur, tapi harus mendaki gunung.

Singkat cerita sesampainya disana, aku menemukan tempat yang keren untuk nembak, yaitu persis di air terjunnya yang berisik, jadi cuman kita yang bisa denger obrolan kita berdua nantinya. Bahkan kalo kurang jelas kita harus ngobrol sambil deke-deketan, wah ini pasti asik coy. Tempat sudah fix, sekarang tinggal mikirin skenarionya aja. Sambil foto-foto si Oti, aku mikirin skenarionya gimana, dan yang paling susah adalah gimana caranya bawa kamu ke sini iev. Ahaaa, ketemu idenya.

Cara terbaik adalah dengan melakukan promosi terhadap air terjun ini. Jadi begitu sampe vila yang harus dilakukan adalah pa,er ke semua orang yang ada bahwa kami colang (cowok-cowok petualang) baru saja bermain di air terjun nan indah. Nah dengan begitu kan pasti ada yang penasaran dan pengen naik ke atas, ntar aku diminta jadi guidenya deh. Ada kemungkinan kamu dan temen-temen kamu minta ikut kan, cos kalian kan Kamu n temen2 kamu itu) suka yang aneh-aneh. Kalopun ga mau ikut, aku akan ajak kamu dan iming-imingin dengan apa aja biar kamu ikut. Kalo ga mempan juga plan terakhirnya adalah aku ajak kita pulang bareng naik mobilnya bro gw yang gede itu (mobilnya). Nah sebelum pulang, aku lobi temen aku untuk bawa kita mampir dulu di air terjun. Pati dia mau deh. Aku yakin. Begitu kita di air terjun aku akan ungkapkan perasaan ku, entah sambil teriak atau sambil lompat dari ats ke bawah (ya iyalah masa dari bawah ke atas)

Aku laksanakan skenario itu, ternyata lebih mudah, justru yang paling pengen naek lagi ke atas adalah kamu dan temen2 kamu itu. Tapi ternyata ada gangguan teknis, badan aku ngedrop banget. Mungkin karena begadang dan mendaki di tambah berenang di air terjun itu. Tapi demi cinta abang lakukan apapun (asekkkkk). Kita naik lagi bersama beberapa orang yang lain. Petualangan pun dimulai. Anehnya, dalam perjalanan ke atas, semakin mendekati tujuan, jantung rasanya semakin kuat berdetak. Waduh, berat ini, tapi hajar aja terus. Bukannya ini yang aku tunggu kan. Maka aku semakin teguh.

Tibalah tempat yang dituju, Air terjun pertama menuju Curug Kembar. Kita semua langsung turun menapaki bebatuan yang terjal. Begitu semangatnya kita sampai-sampai tak perduli bahwa batu itu bisa saja menghempaskan kita dan melukai (kok jadi kaku gini bahasanya ya). Melihat kamu begitu senang dengan situasi ini, aku seneng banget dei, ini benar-benar perencanaan yang matang dan tentunya skenario yang keren. Aku salut sama diri aku sendiri (narsis). Lebih dari itu semua yang menyempurnakan pertemuan di tempat ini adalah bahwa hujan tiba-tiba turun dengan derasnya menghantam bebatuab dan air. Hujan adalah sesuatu yang kamu sukai dan ini begitu sempurna untukmu.

Aku pikir kesempurnaan ini adalah sebuah efek bantuan dari langit untuk mendramatisir adegan keren saat ini. Akupun menganggap bahwa ini adalah waktunya dei. Aku harus segera mengungkapnya atau aku tak akan pernah mendapat moment sempurna ini. Dimana suara air hujan bercampur dengan benturan air terjun yang menghantam deras. Awalnya sangat sulit mengungkapnya, hati dan lidah sepertinya belum berbaikan, ditambah dinginnya suasana menjadikan seluruh badan membeku gila. Tapi aku harus dan harus. Aku beranikan diri mendekat. Lompat dari atas dan terjun persis di sampingmu.

Aku pun bersiap mengungkapnya kepadamu. Aku panggil nama kamu, dei…dei… Tapi karena cerita ini juga kepanjangan, kayanya kronologis penembakannya serta hasilnya seperti apa harus dibuat dalam satu cerita yang baru lagi. Oke silahkan baca tulisan kelanjutannya dengan judul “Menggila di Air Terjun”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s