Kapal Selam

Hari itu, tepatnya minggu, 1 Agustus 2010 aku benar-benar panik (oh tidak(dengan muka panik)/bayangin sendiri)

Kamu benar-benar hilang dari permukaan, ga keliatan di facebook, ga keliatan di twitter juga. Aku sms ga dibales, aku telepon ga aktif. semua kemungkinan yang bikin itu semua terjadi ada dalam kepala aku. Mulai dari HP kecebur comberan, di dalam rumah ada dangdutan dan kamu jadi bintang utamanya, rumah kemalingan kembang, sampe genteng rumah kamu bocor dan jadinya kamu lagi benerin genteng seharian. Pastinya banyak alasan yang ga masuk akal yang ga bisa aku terima pake nalar dan logika. Terlebih emang ga ada penjelasan logika yang aku dapet dari kamu.

Dari pagi sampe malam aku masih santai menunggu kabar, sambil ngelirik-lirik hape berharap ada gambar amplopnya di layar. Beberapa kali amplopnya nongol, tapi pengirimnya bukan orang lemot yang aku harap, langsung aja amplopnya aku lipet lagi. Semakin malam aku semakin terguncang jiwanya, hapa kanan kiri aku pegang pake kedua tangan (ya iyalah masa kanan kiri pake satu tangan) (ini adalah wujud guncangan itu)

Mondar mandir di depan rumah orang kaya bapak-bapak nungguin anak pertamanya. Bahkan sampai-sampai yang punya rumah keluar dan menawarkan toilet, dikira aku mau beli toiletnya kali ya. Aku bilang aja maaf saya punya tiga di rumah, eh dia bilang “saya kira mundar-mandir kebelet”. Karena takut dibilang kebelet, aku ga jadi mondar-mandir tapi lompat jongkok. Eh ternyata yang kecarian kaya aku ada banyak, buktinya anak-anak kecil ngikutin aku lompat jongkok sambil ketawa-ketiwi. Sepertinya mereka juga nunggu kabar sambil lirik-lirak hapenya ada gambar amplopnya apa nggak.

Tiba pukul sembilan malam kalau tidak salah, kalau tidak salah juga pukul sepuluh, atau mungkin kalau salah jam sebelas malam, kegelisahan aku semakin tinggi. Bukan karena kangen, tapi karena kecarian aja /Mulai gengsi\. Dalam keadaan seperti itu aku seperi perahu kecil di atas permukaan laut yang tidak memiliki radar namun berusaha mencari tahu kabar dari kapal selam kesayangannya. Bagaimana mungkin? Membaca saja sulit. *loh kok*

Aku berniat menghampiri rumahmu di daerah sana, karena aku sekarang sedang di sini. Sekedar lewat depan rumah dan memastikan apakah rumah kamu kebanjiran apa tidak. Kalo kebanjiran kan aku bisa menyamar jadi tim SAR dan masuk ke dalam rumah kamu, ketemu kamu terus tanya deh kenapa sms aku ga dibales n kenapa hp ga aktif.

Sebelum ide brilian itu aku jalankan rencananya aku mau kasih kabar dulu ke kamu kalo aku mau ke rumah kamu. Biar kamu siap-siap dandan gitu. Nah pas aku telepon eh ternyata hapenya kamu udah aktif dan diangkat pula. Senangnya hatiku.<—- ini bahasa apa ya, kok kaya pernah denger gitu.

Ternyata seharian hape kamu ga dikeluarin dari tas dan kamu ga cek, terus sms yang aku kirim dari pagi, siang, sore baru masuk malem. Ahhhhh, semuanya gara-gara masalah komunikasi. Sejak kamu angtkat telepon malam itu aku lebih tenang dan ga jadi nyamar jadi tim SAR karena ternyata rumah kamu juga ga kebanjiran, bayangin kalo aku masuk rumah kamu pake kostum tim SAR, keren yak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s